Thursday, 13 November 2014

Monday, 3 November 2014

Kunjungan Kenegaraan BEM Fakultas Ekonomi ke BEM Fakultas KIP

Hari selasa tanggal 22 oktober 2014, keluarga BEM Fkip Untan tercinta kedatangan tamu istimewa dari BEM Fekon Untan. Kegiatan ini diselenggarakann bertempat di aula mahasiswa (samping mushola FKIP Untan). Peserta yang hadir didominasi oleh BEM FKIP Untan sebagai tuan rumah yang menyambut hangat kedatangan para petinggi dari BEM FEKON UNTAN yang sekitar 7 orang meliputi Ketua BEM, Wakil Ketua, Menteri Kastrat dan beberapa staf bidang BEM Fekon Untan.
Kegiatan pun dipandu oleh M. Agus Hardiansyah (staff kominfo BEM FKIP) sebagai pembawa acara pada saat itu, adapun kegiatannya meliputi sambutan dari Ketua BEM FKIP, Sambutan Ketua BEM FEKON, perkenalan anggota BEM, dilanjutkan dengan diskusi pemaparan program kerja unggulan masing-masing BEM.





Berbagai macam program kerja yang sangat menarik dari masing-masing BEM hangat diperbincangkan seperti Pekan Raya Pendidikan FKIP, Borneo student summit, dan olimpiade olahraga dan seni (OOSM), kemudian dilanjutkan dengan program kerja dari BEM Fekon Untan, adapun yang mencuri perhatian adalah Program yang memperkenalkan potensi-potensi perekonomian KALBAR ke beberapa negara tetangga, yakni Malaysia dan Thailand.

Bincang-bincang hangat pun berlangsung hingga kurang lebih 2 jam, besar harapan dari kedua belah pihak untuk dapat bekerja sama dalam menyelenggarakan program kerja seperti kunjungan keluar negeri serta belajar untuk beradvokasi ke pihak-pihak esktern. Tentunya terdapat perbedaan dalam focus dari BEM Fkip yang focus ke bidang pendidikan serta BEM Fekon di bidang Ekonomi, namun perbedaan itu diharapkan tidak menjadi jurang pemisah antara kedua belah pihak BEM untuk menjalin silaturahmi serta kerjasama dalam mensukseskann program-program yang telah dirancang. Semoga BEM FKIP Untan dapat menjalin silaturami dan kerjasama ke BEM-BEM dari beberapa Fakultas lainnya di ruang lingkup UNTAN maupun pihak ekstern.


writed : M. Agus Hardiansyah



Thursday, 22 May 2014

PELANTIKAN SCHOOL OF LEADERSHIP (SOL) 2014


Berawal dari perjalanan di HIMA dan UKM masing-masing di lingkungan FKIP Untan, para anggota terpilih mendapatkan rekomendasi untuk kegiatan School of Leadership yang diselenggarakan oleh BEM FKIP Untan periode 2013/2014. Sekolah yang dikepalai oleh Bapak Rizal Zulmi pada periode ini diharapkan bisa membentuk para pemimpin FKIP yang bisa mengantarkan FKIP ke era yang lebih bersinar.
Perjalanan yang cukup panjang telah dilalui  oleh para siswa School of Leadership yaitu sekitar 2 bulan lamanya untuk menempuh masa pendidikan. Melalui berbagai muatan yang diberikan kepada siswa, mulai dari materi, simulasi, maupun pengembangan diri siswa diharapkan mampu membangun integritas pada diri masing-masing sebagi pondasi awal untuk menjadi seorang pemimpin. Adapun materi yang telah diterima siswa adalah materi kepemimpinan, demokrasi kampus, pergerakan mahasiswa, rekayasa sosial, advokasi kampus, dan manajemen konflik. Selain itu, simulasi yang diberikan kepada siswa juga telah dipilih relevansinya dengan materi yang disampaikan untuk membangun pola pikir yang lebih kritis.
Sebagai akhir dari rangkaian pendidikan di School of Leadership, selama 2 hari satu malam siswa beserta panitia melakukan kegiatan di luar lingkugan kampus. Kegiatan ini akan diisi juga dengan berbagai muatan pengembangan diri, mulai dari outbond, jurit malam, dan kegiatan pendukung lainnya yang bisa mendukung terwujudnya tujuan pelaksananaan School of Leadership. Kegiatan ini diharapkan bisa membentuk militansi para siswa School of Leadership ketika mereka telah dinyatakan lulus dari sekolah ini.
Kegiatan yang diikuti oleh kurang lebih 70 siswa diawal ajaran baru, tidak bisa meluluskan seluruh siswa, akibat terdapat siswa yang mengundurkan diri ataupun terdapat siswa yang memang tidak bisa memenuhi syarat kelulusan. Kelulusan ini melahirkan siswa terbaik yang di sandang oleh Avant Patria Rasu sebagi utusan dari HMPF FKIP Untan.
Semoga para siswa School of Leadership tahun lulusan 2014 bisa mewujudkan mimpi-mimpi FKIP ke depannya. Amiin.(Nashrullah)



School of Leadership 2014! Do the best, we are leader!


Tuesday, 13 May 2014

GEMA KAMPUS OREN - PERAK [PESTA RAKYAT]

GEMA KAMPUS OREN selintas terdengar asing bagi masyarakat kampus oren, FKIP UNTAN. Kegiatan ini merupakan terobosan baru BEM FKIP UNTAN dalam rangka mewujudkan visi dan misi BEM FKIP SATU. PERAK (Pesta Rakyat) merupakan acara yang sengaja dipilih oleh induk penyelenggara program kerja dari kementrian dalam negeri (Kemendagri) BEM FKIP UNTAN. "Satu dalam Keberagaman" merupakan tema yang diangkat dalam rangka memperingati hari Kebangkitan Nasional.

"Dengan kegiatan Pesta Rakyat dalam GEMA KAMPUS OREN ini diharapkan masyarakat FKIP menyatu dalam keberagaman," ujar Agus sebagai pengurus di Kemendagri.




Berikut daftar lomba kegiatan ‘’Gema Kampus Oren’’
1. Tarik tambang 
2. Balap kompilasi yaitu :

  • balap karung + makan kerupuk
  • balap kelereng sendok
  • balap masukan paku dalam botol
Peserta
  • tarik tambang 2 team masing2 hima ( 1 team putra dan 1 team putri). 
    • 1 team terdiri dari 7 orang 
  • balap kompilasi 2 team masing2 hima (1 team putra dan 1 team putri). 
    • 1 team terdiri dari 3 orang 
Hadiahnya : piala + makanan



Acaranya di mulai tanggal 17 mei 2014 di lapangan voli FKIP untan.Malam persembahan dari masing2 hima sekaligus pembagian hadiah bertempat di aula FKIP untan pada malam minggu.

Contact person:

    • @tarik tambang , agus arianto (08997459844),
    • @balap kompilasi, nisa istiqomah H. (089670834708)


Sunday, 11 May 2014

Atasi Pedofilia di Dunia Pendidikan, Bagaimana?

Waspada Pedofilia di Dunia Pendidikan

Dilansir oleh TEMPO.CO : Pengamat pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Arief Rachman, mengatakan banyaknya kekerasan seksual terhadap anak di lingkungan sekolah merupakan dampak dari kurikulum pendidikan Indonesia. Menurutnya, materi pendidikan yang diajarkan di sekolah lebih ditekankan pada pendidikan otak, bukan watak siswa.
Jadi kekerasan seksual itu terjadi karena minimnya pendidikan watak,” ujar dia saat dihubungi, Sabtu, 10 Mei 2014. (Baca: Kasus Pencabulan, Ini Imbauan KPAI buat Orang Tua)
Arief mengatakan, kurikulum yang diterapkan di Indonesia selama ini selalu mengedepankan aspek meraih nilai tinggi. Dengan kurikulum itu, tiap siswa disebutnya dituntut untuk selalu memiliki nilai yang baik. Selain itu, mereka juga kerap dipacu untuk selalu hidup dalam lingkungan kompetisi agar selalu menjadi peraih nilai yang terbaik ketimbang temannya.
Namun, tuntutan itu tidak diimbangi dengan pendidikan watak dan perilaku mengenai cara untuk mendapatkannya. Tuntutan agar berprestasi tinggi membuat tekanan yang muncul di dalam diri siswa menjadi tinggi. Hal itu juga disebut Arief membuat siswa lebih rentan terhadap aksi kekerasan atau pelecehan seksual di sekolah.
»Akibatnya, terutama yang masih anak-anak, jadi mudah menerima iming-iming tertentu,” katanya.
Sebelumnya, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Anak) mencatat sebanyak 342 kasus kekerasan pada anak terjadi di Jakarta dari Januari-April 2014. Sebanyak 52 persen atau sekitar 175 kasus merupakan kejahatan seksual. Sedangkan sepanjang 2013 tercatat ada 666 kasus kekerasan anak terjadi di Jakarta, dengan 68 persennya merupakan kekerasan seksual. (Baca: Begini Aksi Pencabulan Puluhan Pelajar Surabaya)
[DIMAS SIREGAR]
----------


REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Pakar Kebijakan Publik UGM Agus Heruanto Hadna menilai cara efektif mencegah kekerasan dan pelecehan terhadap anakan adalah memberikan pendidikan seks bagi anak. Anak-anak perlu diajarkan bagaimana cara menghargai tubuhnya sendiri maupun respek terhadap orang lain.
Namun hal ini tampaknya masih sulit dilakukan. Apalagi, kata dia,  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan  Muhammad Nuh, menilai pendidikan seks masihlah tabu di Indonesia dan  lebih baik memprioritaskan pendidikan budi pekerti dan pendidikan agama di dalam kurikulum pengajaran.
"Padahal pendidikan seks bagi anak dan pendidikan budi pekerti kan, dua hal yang berbeda. Memang ada kelompok-kelompok tertentu yang belum bisa memahami, bahkan cenderung resisten terhadap ini. Pendidikan seks diartikan dalam makna porno, tabu, konotasinya selalu negatif," paparnya.
Namun pemerintah idealnya tidak bisa begitu saja memutuskan bahwa pendidikan seks bagi anak tidak dibutuhkan. Persoalannya adalah bagaimana metode pendidikan seks yang tepat, yang sesuai dengan setiap perkembangan umur anak, serta dinilai tidak melanggar norma-norma masyarakat maupun agama. 
Karena itu tugas pemerintah dalam hal ini kan, harus mencari model atau metode yang cocok. Ada banyak lembaga, yayasan yang fokus terhadap anak dan perempuan, lalu tokoh agama serta tokoh masyarakat yang bisa diajak untuk duduk bersama mendiskusikan hal itu, saran Hadna.

MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK

Pendidikan Karakter
Oleh Muhammad Iqbal Noviansyah (Pendidikan Fisika 2011)


MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK DAN PENDIDIK

Kondisi pendidikan di bumi Kalimantan Barat mengundang simpati seluruh elemen masyarakat peduli pendidikan.
Rendahnya kualitas dan kuantitas pendidikan menjadi sorotan tajam dinas pendidikan. Drs. Alexius Akim, MM. Kepala Dinas Pendidikan Kalimantan Barat dalam Raker Gubernur Kalbar tahun 2010 menyatakan bahwa permasalahan pokok pendidikan di Kalimantan Barat adalah terbatasnya akses pendidikan; rendahnya mutu, relevansi, dan daya saing keluaran (out-put) pendidikan; dan lemahnya tata kelola, pencitraan publik dan akuntabilitas. Permasalahan pendidikan di Kalimantan Barat tidak hanya sebatas itu saja, tetapi juga mencakup krisis mental dan moral peserta didik dari usia taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi. Tentunya kondisi seperti ini bukanlah kondisi yang ideal untuk dicita-citakan.
Secara statistik pendidikan di Kalimantan Barat juga menuai banyak catatan buruk, “Apa buktinya?” Berdasarkan data IPM ( Indeks Pembangunan Manusia ), kalimantan barat menempati posisi ke 28 dari 33 provinsi di Indonesia dan merupakan yang terendah di regional Pulau Kalimantan. Dari hasil tes uji kompetensi guru yang direalisasikan pada awal tahun 2012, Kalimantan Barat menempati papan bawah klasemen persentase hasil tes. Dari 33 provinsi di Indonesia Kalimantan Barat berada pada peringkat 3 terendah dengan persentase 35,4 %, berada di bawah Kalimantan tengah. Tes yang diikuti oleh 281.016 guru menjadi tolak ukur rendahnya kualitas pendidikan di Kalimantan Barat. Sungguh ironi nasib pendidikan Kalimantan Barat sekarang ini.
Peserta didik sebagai generasi muda dan penerus bangsa yang diharapkan mampu membangun bumi Kalimantan Barat kedepannya, justru mengundang kekhawatiran masyarakat. Banyak aksi-aksi pelajar yang tidak wajar pada usianya, bahkan tergolong tindakan kriminal seperti merokok, perkelahian, balapan liar, bahkan mengkonsumsi narkoba. Berdasarkan data Puslitkes Universitas Indonesia tahun 2006 hingga 2007, dari 3,2 juta pengguna narkoba di Indonesia, 1,1 juta diantaranya adalah pelajar dan mahasiswa. Dari 1,1 juta pengguna narkoba dari kalangan pelajar dan mahasiswa, 40 persen diantaranya pelajar SLTP, 35 persen pelajar SLTA, dan 25 persen mahasiswa. Tentunya hal ini mencerminkan masih rendahnya mental dan moral peserta didik di Kalimantan Barat.
Mengenai rendahnya mental dan moral dari peserta didik, yang menjadi pertanyaan adalah “mengapa hal ini bisa terjadi?” Kurangnya pembekalan moral, dan terlambatnya pengetahuan nilai dan norma yang mereka peroleh menjadi beberapa faktor penyebab. Kurangnya pembekalan moral, akibat dari kurangnya perhatian tenaga pendidik dalam menanamkan dan membangun karakter peserta didiknya. Yang menjadi tujuan utama dan tolak ukur dalam pendidikan selama ini hanyalah sebatas nilai angka yang menjadi suatu kebiasaan.
Sistem pendidikan di Indonesia secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif.
Tujuan utama pendidikan sepertinya telah terbiaskan menjauhi cita-cita bangsa negara ini. Perlu kita ingat kembali “apa yang menjadi cita-cita pendidikan negara ini?” Tertulis jelas dalam pembukaan UUD 1945 pada alenia keempat, satu diantara tujuan NKRI adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan ini dipaparkan lebih lanjut dalam UU No 20 tahun 2003 pada pasal 1 ayat 1 yang menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Dan pada ayat 2, pendidikan nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman.
Beracuan dengan isi UU No 20 Tahun 2003, pendidikan nasional yang bersandarkan Pancasila dan UUD 1945 mempunyai harapan mengembangkan potensi, membentuk watak serta membangun peradaban yang bermartabat untuk menghasilkan peserta didik yang berahlak mulia, berilmu, sehat, kreatif dan mandiri serta berjiwa demokratis.
Kemendiknas telah menyadari bahwa anak bangsa dilanda krisis karakter, sehingga harus dilakukan pemupukan dan penyiraman untuk menumbuhkan kembali jiwa karakter mereka, dengan harapan Indonesia akan menuai panennya di masa yang akan datang. Bertepatan pada hari pendidikan nasional tahun 2010, kemendiknas meluncurkan sebuah program pendidikan, yang dikenal dengan “Pendidikan Karakter”. Melalui program ini diharapkan dapat menghasilkan generasi pembangun dan pemimpin bangsa serta meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air yang berkarakter, bermolar dan berbudi pekerti tinggi.
Kemendiknas secara gencar menjalankan program Pendidikan Karakter dalam mensukseskan program tersebut. Pada bulan Juni tahun 2011 paling tidak ada 650.000 guru serta kepala sekolah dijenjang pendidikan tingkat SMP akan ditatar berkenaan dengan konsep pendidikan karakter. Harapan kedepannya mereka akan faham dan mengerti bagimana cara menerapkan pendidikan karakter kepada siswa yang di didiknya.
Pendidikan karakter didefinisikan sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memberikan keputusan baik-buruk, memelihara apa yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Rencana Aksi Nasional Pendidikan Karakter, 2010).
Dalam melaksanakan pendidikan karakter perlu adanya sarana serta distributornya. Peranan lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah menjadi sarana dan distributor yang tepat dalam membangun moral anak. Dari ketiga pilar pendidikan tersebut memiliki fungsi dan perananan masing-masing.
Mengingat bahwa pendidikan merupakan suatu siklus, tenaga pendidik juga melalui fase sebagai peserta didik yang memperoleh pendidikan di usianya dan sekian persen dari peserta didik akan melanjutkan tugas mulia sebagai tenaga pendidik begitu seterusnya. Pada pilar pertama, orangtua juga melalui proses pendidikan dan diterapkan kepada anaknya dan anak juga akan menjadi orangtua pada masanya.
Sebagai refleksi dari pemikiran dan permasalahan “krisis karakter peserta didik”, saya sebagai seorang mahasiswa akan melakukan pendekatan dari segi perguruan tinggi dalam memainkan perananannya. Menerapkan Pendidikan Karakter kepada mahasiswa khususnya mahasiswa FKIP maupun STKIP dan lainnya yang sejenis yang dipersiapkan sebagai calon pendidik. Bagi mahasiswa pendidikan karakter yang diberikan akan dijadikan sebagai bekal untuk diterapkan dalam membangun karakter peserta didik sehingga mampu memperbaiki citra kualitas pendidikan di Kalimantan Barat.
Banyak cara dan program yang dapat dilakukan dalam memantapkan pembangunan karakter mahasiswa khususya mereka sebagai calon pendidik. Satu diantaranya adalah dengan menjadikan Pendidikan Karakter sebagai matakuliah wajib bagi seluruh jurusan, seperti empat mata kuliah lainnya yakni Pengantar Pendidikan, Pengembangan Peserta Didik, Profesi Keguruan dan Belajar dan Pembelajaran yang menjadi syarat untuk menyusun tugas akhir strata satu (skripsi). Tentunya ini tidak mudah, karena harus adanya penyesuaian dengan kurikulum yang telah ada dan ditetapkan. Jika terjadi penambahan mata kuliah maka akan menambah jumlah sks yang telah di tetapkan sehingga perlunya penyesuaian ulang terhadap kurikulum.
Kedua, melalui matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan matakuliah Pendidikan Agama. Meninjau kembali kurikulum dan pola pembelajaran. Dengan memantapkan peranan matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama melalui pembekalan nilai dan moral yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 serta keimanan dan mental yang cerdas sesuai ajaran agama, diharapkan mampu membangun kembali citra baik karakter mahasiswa dalam berpikir dan tingkah laku.
Ketiga, menyisipkan nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam matakuliah Pengembangan Peserta Didik, Belajar dan Pembelajaran dan lainnya yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan pendidikan moral mahasiswa. Dalam matakuliah Pengembangan Peserta Didik mahasiswa diharapkan dapat mengenali karakter peserta didik dan sebagai pendidik bisa menyesuaikan metode pengajaran yang diterapkan. Sehingga dengan adanya korelasi antara Pendidikan Karakter dan materi perkuliahan, mahasiswa yang akan menjadi pendidik nantinya, selain mengenali karakteristik peserta didik juga mampu mengubah moral peserta didik ke arah yang lebih baik.
Keempat, menggalakkan kegiatan dan acara keagamaan di Universitas atau Perguruan Tinggi. Melalui materi-materi yang disampaikan dalam agenda tersebut pemikiran dan karakter mahasiswa diluruskan kembali sesuai ajaran yang dianutnya. Dan mereka dapat mengmbangkan nilai-nilai moral agama yang dianutnya.
Dengan pemantapan karakter mahasiswa yang disiapkan sebagai calon pendidik, maka harapan ke depannya adalah menghasilkan pendidik profesional dengan “good character”. Pendidik profesional yang telah dibekali Pendidikan Karakter dan jiwa berkarakter akan menciptakan proses pendidikan yang baik pula di berbagai jenjang pendidikan dari PAUD hingga Perguruan Tinggi. Dengan proses pendidikan yang baik maka diharapkan akan menghasilkan keluaran (output) yang berkarakter, bermoral, cerdas dan demokrasi sesuai dengan tujuan Pendidikan Nasional.
Dengan proses pembinaan dan pendidikan yang baik maka akan mampu memberantas aksi-aksi kriminal dan penyimpangan sosial serta menekan tingginya persentase pengguna narkoba di provinsi Kalimantan Barat.
Seperti yang telah dipaparkan di awal pemikiran, sebagian dari peserta didik akan menjadi calon pendidik dan pendidik. Dengan telah terbentuknya karakter yang baik ditambah program Pendidikan Karakter yang diusulkan pada artikel ini tentunya jiwa karakter melalui Pendidikan Karakter akan terus berkelanjutan dari periode ke periode. Sehingga mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Kalimantan Barat.
Pembangunan jiwa berkarakter tidak hanya sebatas meningkatnya kulaitas pendidikan tetapi juga berdampak luas pada aspek kehidupan lainnya. Meningkatnya kualitas tenaga kerja di segala sektor, terciptanya lingkungan yang lebih kondusif. Dari segi politik, lahirnya calon-calon pemimpin sebagai calon pemegang aspirasi rakyat yang berjiwa karakter.