Saturday, 1 March 2014

BICARA TENTANG Gelar Gr. dan Pendidikan Profesi Guru

Guru Profesional, Sarana Meningkatkan Kualitas Pendidikan

Oleh: berbagai sumber
Gelar ‘Gr.’ belakangan ini sudah mulai dimunculkan dalam perbincangan terkait Pendidikan Profesi Guru (PPG). Dilansir dalam sekolahdasar.net: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan mewajibkan seluruh guru untuk mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG). Menurut Mendikbud Mohamad Nuh, seorang sarjana pendidikan (S.pd) masih belum bisa disebut sebagai guru sebelum lulus dari PPG dan sertifikasi guru. Sehingga seluruh guru dengan gelar S.pd diwajibkan mengenyam kembali bangku kuliah melalui PPG sebelum menjadi guru. 
Rencana pemerintah memberi gelar Gr untuk guru menimbulkan pertanyaan di kalangan guru. Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Surakarta Sugiaryo khawatir pendidikan profesi guru (PPG) untuk mendapatkan gelar Gr akan tumpang-tindih dengan proses pembelajaran di universitas.

Sebab, dalam kurikulum sarjana pendidikan, sudah tercakup materi tentang profesionalitas guru. “Misalnya ada mata kuliah metodologi pembelajaran atau kependidikan,” katanya kepadaTempo, Senin, 10 Februari 2014.

Lalu ada kewajiban bagi calon sarjana pendidikan untuk menempuh praktek mengajar selama tiga bulan di sekolah mitra. “Lulusan fakultas keguruan dan ilmu pendidikan (FKIP) pun dapat dua sertifikat. Yaitu sarjana pendidikan dan akta IV untuk bekal mengajar,” ucapnya.

Sugiaryo mengatakan akta IV melekat dalam kurikulum calon guru di FKIP. Jika pemerintah memaksakan ada PPG, seharusnya materi kompetensi dipisahkan dari kurikulum di FKIP. “Pemerintah jangan tergesa-gesa menerapkan guru sebagai profesi. Harus ada uji kurikulum, uji kompetensi, dan sebagainya,” katanya.

Dia meminta pemerintah melakukan 
kajian mendalam ihwal pentingnya gelar Gr bagi guru dan proses mendapatkannya.Sebab, struktur kurikulum saat ini sudah mencakup profesionalitas guru. ”Jangan disamakan dengan dokter atau akuntan. Mereka memang harus melalui pendidikan profesi agar menyandang gelar dokter atau akuntan dan bisa praktek,” ucapnya.

Pengamat pendidikan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Furqon Hidayatullah mendukung pemberian gelar Gr untuk guru. Dia menilai gelar Gr dan proses mendapatkannya sebagai bentuk penguatan terhadap profesi guru. ”Harapannya guru lebih siap menghadapi tantangan,” ujarnya. Dilansir oleh tempo.co.

Dilansir dalam koranpendidikan.com: Mendikbud M. Nuh menyatakan, peluang menjadi PNS guru tidak hanya dimiliki sarjana lulusan FKIP atau LPTK. Semua sarjana dari bidang ilmu lain juga memiliki kesempatan yang sama, setelah mengikuti PPG dan mengantongi sertifikat pendidik. Akan tetapi, pakar manajemen pendidikan Universitas Negeri Malang (UM) Dr Waras Kamdi MPd, memandang PPG tidak lah sesederhana itu. Apalagi, dianalogikan secara ala kadarnya dengan profesi dokter, pengacara, atau pun akuntan.
“Ini (analogi) adalah bentuk simplifikasi (penyederhanaan, red) yang kurang tepat. PPG, mestinya bukan asal. Peserta PPG harus memiliki latar belakang pendidikan linier atau relevan dengan ilmu keguruan sebelumnya. Kemendikbud harusnya konsisten diawali dari hal ini,” tegas Waras.
Jika hal ini dipaksakan, tersirat Waras tampak pesimis PPG akan menghasilkan calon guru kompeten dan profesional nantinya. Lalu, seperti apa konsep dan disain PPG sehingga jaminan mutu outputnya bisa dipastikan? Menurut Waras, input dan model pendidikan dalam PPG tetap harus diperhatikan syarat dan karakternya secara khusus. Untuk calon peserta, tidak bisa siapa pun, termasuk mahasiswa atau sarjana non-kependidikan, bisa langsung mengikuti PPG.
“Untuk bisa mengikuti PPG, input peserta non-keguruan tetap harus mengalami perkuliahan teori-teori pembelajaran dan keguruan terlebih dahulu, melalui program dual degree atau sejenisnya. Konsep syarat ini yang selama ini belum diakomodir Kemendikbud,” sesal pria yang juga menjabat Dekan Fakultas Teknik UM ini.
Seberapa penting kah teori-teori akademik keguruan tersebut? Apalagi, ada anggapan sarjana non-keguruan memiliki penguasaan konsep yang lebih hebat dibanding lulusan kependidikan atau keguruan. Menurut Waras, teori-teori akademik kependidikan dan keguruan diyakini menjadi dasar filosofis yang membentuk epistemologi dan pola pikir guru terkait profesi pedagogik dan profesionalnya. Dasar-dasar kependidikan ini pula yang bisa mempengaruhi pengambilan keputusan seorang guru dalam pengelolaan kelas dan aktivitas belajar-pembelajaran.
“(Teori-teori kependidikan) sangat penting. Justru, jangan dianggap sepele dan diabaikan,” tambah Waras.
Jika lama studi PPG tak lebih dari satu atau dua tahun, bukan kah akan sama saja dengan program Akta Mengajar IV yang selama ini ada? Toh, bagi mahasiswa kependidikan, materi keguruan juga sudah diperolehnya setidaknya sebanyak 40 SKS.
Soal ini, Waras memastikan PPG akan jauh berbeda. Model perkuliahan PPG akan dirancang dengan disain interrenship. Artinya, tidak lagi banyak teori akademik pendidikan dan keguruan. Sebaliknya, mahasiswa akan banyak mengaplikasikan ilmu keguruan dengan praktik magang langsung di dunia pendidikan. Di sekolah-sekolah yang ditunjuk, akan ada guru-guru pamong yang akan membimbing peserta PPG. min-KP

Wednesday, 15 January 2014

E-Bulpen BEM FKIP Untan 2013/14 edisi Kedua

E-Bulpen BEM FKIP Untan 2013/14 edisi kedua. Silahkan diunduh. Selamat membaca. Semoga terinspirasi 




DOWNLOAD E-Bulpen BEM FKIP Untan 2013/14 edisi kedua :



E-Bulpen edisi perdana bagi yang belum baca dapat diunduh di E-Bulpen Edisi Perdana

Thursday, 12 December 2013

REFORMASI MAHASISWA FKIP


"sebuah tulisan yang saya buat semasa kampanye,,," (Presiden Mahasiswa BEM FKIP UNTAN 2013)
REFORMASI MAHASISWA FKIP
By : Putra Kurniadi



A. Kondisi Internal

Kondisi mahasiswa FKIP berada pada titik terendah, seperti ada tapi tak ada. Seperti kuat, tapi ternyata hanya buih dilautan. Gerakan mahasiswa juga seakan “baru” mencari jati diri, apakah akan melanjutkan tonggak estafet yang dibangun pada arah kontrol sosial politik radikal atau beralih pada paham akademisi yang mengacu pada perubahan masyarakat kedepan. Padahal, bila kita sejenak melongok ke belakang, pergerakan mahasiswa FKIP bisa dikatakan dinamis. Kualitas kader pada saat itu memang mumpuni. Terbukti, mahasiswa mampu menggulingkan rezim FKIP yang berkuasa pada saat itu. Coba kita lihat kondisi kita pada hari ini, untuk meminjam ruangan saja bisa membuat telinga merah. Belum lagi penghentian kegiatan, masalah transparansi, hak yang tak sesuai dan pembatasan penggunaan fasilitas. Mahasiswa FKIP bahkan nyaris tak sanggup untuk menolong dirinya sendiri, gimana mau nolong orang tho? Padahal kita itu kuat. Pada tahun 2012 saja, paling tidak terdapat kurang lebih seribu mahasiswa baru reguler A yang diterima di FKIP, belum lagi ditambah angkatan-angkatan senior yang masih merajalela di kampus. Semuanya tersebar di 14 prodi dengan 14 hima. Tapi, kemana semua kekuatan itu? Ya, secara kuantitas, FKIP sangat berpotensi menjadi sebuah kekuatan yang mengerikan. Namun, masih terdapat kerenggangan internal antar KBM yang tak jarang berujung pada perang dingin atau malah adu jotos. Tidak saling mengenal satu sama lain, bahkan terkadang tidak mengenal diri, itulah masalah utama kehidupan di kampus kita.
Liberalisme tampaknya telah menjadi penyakit mahasiwa. Individualisme pada tiap-tiap kepala teleh merasuk. Pada tingkat hima, kepentingan sektoral menjadi amanat utama organisisasi. Hal tersebut memang tidak lepas dari tuntutan zaman yang serba sulit sekarang. Perkuliahan 7 tahun, standar IPK 3, harga kebutuhan pokok yang meningkat, dan mahalnya biaya kuliah seakan menjadi “pemulus” pemikiran individualisme dan apatisme mahasiswa. Yang lebih parah, sikap tersebut seakan diamini oleh hima-hima dan BEM, yang terkesan tidak melakukan tindakan apapun. Masih ingatkah anda dengan politik pecah belanda untuk menguasai hindia belanda? Politik yang berhasil mengadu para elitis di Nusantara yang tentu saja melemahkan. Sukarno pernah berkata, perjuangan kalian akan lebih sulit daripada perjuanganku, karena melawan musuh yang tak kasat mata. Bila dulu yang memecah belah adalah Belanda, nah sekarang malah sistem dan regulasi yang dibuatlah yang menyebabkannya.

B. Tujuan BEM FKIP Untan 2013/2014

Sebuah bangunan yang kuat adalah bagunan yang dibangun dengan perencanaan matang dengan material terbaik. Lihatlah betapa kuatnya piramid dan betapa megahnya taj mahal? Gabungan dari perencanaan matang dan bahan terbaik saja ternyata tidak cukup. Masih ada satu faktor penentu, yaitu tukang! Tanpa tukang, rencana hanyalah sebuah mimpi dan material hanyalah artefak. Ketiga faktor tersebut akan saling berkombinasi dan mewujudkan mimpi dan artefak menjadi sebuah kenyataan yang dapat dilihat bentuknya dan dirasa kegunaannya. Berkaitan dengan BEM, perencanaan yang matang dapat dilekatkan pada visi dan misi yang nantinya akan dimanifestasikan dalam program kerja. Material terbaik alat dan perlengkapan organisasi pendukung seperti aturan perundangan dan regulasi serta buah pikir. Untuk mengendalikan keduanya, maka diperlukan sumber daya manusia. Disinilah kader-kader BEM berperan.
Demi mencapai organisasi yang kuat persatuan mutlak dibutuhkan. Bersatu yang dimaksud adalah menjadi satu kesatuan yang kuat untuk menghadapi segala tantangan nah, dalam persatuan ini dibutuhkan harmoni, yaitu kemampuan untuk bersinergi dan saling mengisi kekurangan masing-masing. Telah diterangkan sebelumnya bahwa kita memiliki kuantitas yang besar, namun masih tercerai berai dalam bagian-bagian yang lemah. Kesadaran akan persatuan mahasiswa sebenarnya telah telah disadari sejak ratusan tahun lalu, diawali dengan boedi oetomo (1908) yang terdiri dari mahasiswa STOVIA yang dipecut karena penjajahan belanda. Semangat persatuan seperti ini mesti kita hidupkan kembali. Semangat persatuan yang memajukan kepentingan bersama.
Menyatukan berbagai berbagai hima dengan latar belakang yang heterogen tentu bukan pekerjaan gampang. Disini dibutuhkan kapasitas dan kerja keras, dan muara yang diinginkan adalah kepercayaan. BEM, akan berfungsi sebagai pemimpin yang memimpin rakyat-rakyatnya di HIMA. Kepercayaan terhadap pemimpin dan kepercayaan pemimpin haruslah tercipta secara nyata, tidak secara konseptual. Kepercayaan yang tinggi akan berbanding lurus dengan tingkat partisipasi. BEM yang tanpa dukungan rakyat sama saja dengan nasib raja-raja pada negara monarki saat ini. Hanya sebagai simbol, tak memiliki kekuatan dalam pemerintahan. 
Setelah persatuan dengan dasar harmoni dan terpercaya terbentuk, maka akan lebih mudah untuk ekspansi gerakan dan penyuksesan program kerja. Pencerdasan dan peningkatan kemampuan berpikir massa lewat diskusi-diskusi yang cerdas adalah poin selanjutnya yang mesti dimasifkan.
Dalam keadaan ini, mahasiswa FKIP telah memiliki posisi tawar yang tinggi dan dapat mengokohkan posisinya sendiri. Tentu, akan sangat mudah untuk menangkal intervensi pihak luar maupun pihak atas.
BEM yang cerdas dan kritis mestinya juga diikuti oleh massanya. Pencerdasan sangatlah perlu agar mahasiswa FKIP tidak mudah dibodohi dan dijadikan boneka oleh pihak-pihak luar. Mahasiswa FKIP harus dapat menentukan masa depannya dan memiliki idealismenya sendiri dalam mengambil keputusan dan bertindak.
Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang merubah apa-apa yang ada pada diri mereka " (QS.13:11)

Tuesday, 10 December 2013

Tuesday, 12 November 2013

Monday, 4 November 2013

Secercah Asa untuk Ningrum, si Penderita Hidrosepalus


Secercah Asa untuk Ningrum, si Penderita Hidrosepalus

semoga banyak hati yang terketuk untuk mengulurkan tanggannya guna membantu kesembuhan sahabat kecil kita yang satu ini

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat dipisahkan dari kelompoknya dikarenakan kebutuhannya yang sangat beragam. Dalam menjalankan kehidupannya, baik secara sadar maupun tidak, manusia senantiasa memerlukan pertolongan dari orang lain guna memenuhi kebutuhannya. Sebagai manusia, sikap tolong-menolong terhadap sesama merupakan salah satu langkah bagi kita untuk lebih “memanusia”.
Bertempat tinggal di jalan Panglima Aim, Gg Permata Seruni 2 NO. 99, Dwi Cahaya Ningrum (11 bulan) seorang penderita Hidrosepalus sedang berjuang untuk bertahan hidup. Ia adalah anak dari pasangan Risman (27 tahun) dan Ema (27 tahun) yang berasal dari keluarga tak mampu. Rumah satu-satunya merupakan rumah kontrakan yang tidak mungkin menjadi jaminan. Ayahnya merupakan seorang montir di salah satu bengkel di Pontianak, namun semenjak keadaan Ningrum memburuk, ia sudah tidak dapat bekerja lagi dikarenakan harus menjaga buah hatinya. Ibunya, merupakan seorang ibu rumah tangga yang bertugas mengurus rumah dan setiap hari harus selalu memperhatikan kondisi Ningrum dan kakaknya Cantika yang hampir berumur 6 tahun.
Keadaan Ningrum diperparah dengan koreng yang berada dibelakang kepalanya dikarenakan kondisinya yang menyulitkannya untuk bangun sehingga ia nyaris selalu menghabiskan harinya dengan berbaring.
Untuk pengobatan, sampai sekarang ia hanya mendapatkan perawatan seadanya  dari rumah sakit untuk sekedar membuatnya tenang untuk sesaat. Penyakitnya memerlukan operasi yang biayanya tentu diluar jangkauan keluarganya. Rumah sakit memperkirakan biaya pengobatan Ningrum berada pada angka 30 juta.
Atas nama kemanusiaan, kami dari BEM FKIP Untan mengajak seluruh elemen mahasiswa FKIP Untan untuk:
1.   Menyumbangkan sedikit harta guna membantu biaya berobat
2.   Melakukan aksi sosial turun ke jalan dengan tajuk “Asa Untuk Ningrum”
Demikianlah surat ini kami buat, semoga banyak hati yang terketuk untuk mengulurkan tanggannya guna membantu kesembuhan sahabat kecil kita yang satu ini.